close

Dimensi Sikap dalam Hubungan Antar Kelompok

Advertisement

Dimensi Sikap dalam Hubungan Antar Kelompok – Dimensi sikap tertentu sering tampak ketika suatu kelompok berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda. Sikap tersebut dapat bercorak positif maupun negatif. Bagaimanakah dimensi sikap dalam hubungan antar kelompok sebagai tantangan bagi terwujudnya masyarakat multikultural? Mari simak bahasan berikut.

W1siZiIsIjIwMTUvMDQvMTkvMTEvMDMvNDIvODc0L18xXy5qcGciXSxbInAiLCJ0aHVtYiIsIjYwMHhcdTAwM2UiLHt9XSxbInAiLCJjb252ZXJ0IiwiLWNvbG9yc3BhY2Ugc1JHQiAtc3RyaXAiLHsiZm9ybWF0IjoianBnIn1dXQ Dimensi Sikap dalam Hubungan Antar Kelompok

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai dimensi sikap dalam hubungan antar kelompok, dimana sebagian di antaranya merupakan tantangan bagi terwujudnya masyarakat multikultural.

Hubungan antar kelompok (intergroup relations) adalah hubungan antara dua kelompok atau lebih yang mempunyai ciri khusus. Dalam hubungan antar kelompok, ada beberapa dimensi yang menyebabkan munculnya dinamika, antara lain, dimensi sikap dan dimensi perilaku. Keduanya bisa mengarah pada konflik atau terciptanya situasi hubungan yang harmonis.

DIMENSI SIKAP DALAM HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK

Mengkaji tentang dimensi sikap artinya membahas mengenai sikap-sikap yang mungkin ditunjukkan oleh suatu kelompok (anggota) terhadap kelompok lain. Sejumlah ahli psikologi sosial mengemukakan bahwa ada tiga komponen yang membentuk sikap, yakni :
1) Komponen kognitif (komponen perseptual)
Yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, dan keyakinan. Hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana seseorang mempersepsikan obyek sikap.
2) Komponen afektif (komponen emosional)
Yakni komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang adalah hal yang negatif. Komponen ini menunjukkan arah sikap, yaitu positif dan negatif.
3) Komponen konatif (komponen perilaku)
Yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap atau besar kecilnya kemungkinan melakukan tindakan.

Sebagai suatu faktor yang ada dalam diri manusia dan dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu, sikap memiliki sejumlah karakteristik:
Sikap tidak dibawa sejak lahir
Ini berarti bahwa manusia pada saat dilahirkan belum membawa sikap-sikap tertentu terhadap suatu obyek. Sikap terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena sikap itu terbentuk atau dibentuk, maka sikap dapat dipelajari dan berubah dari waktu ke waktu.
Sikap selalu berhubungan dengan obyek sikap
Hubungan yang positif dengan obyek sikap akan menimbulkan sikap yang positif. Sebaliknya, hubungan yang negatif dengan obyek sikap akan memunculkan sikap yang negatif pula.
Sikap dapat tertuju pada satu obyek atau sekumpulan obyek
Bila seseorang mempunyai sikap yang negatif pada orang lain, ia akan cenderung untuk menunjukkan sikap yang negatif pula kepada kelompok dimana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini tampak adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan obyek sikap.
Sikap dapat berlangsung lama atau sesaat
Jika suatu sikap telah terbentuk dan menjadi nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif, sikap tersebut akan bertahan lama serta sulit berubah. Namun, bila suatu sikap belum terlalu mendalam, maka sikap tersebut biasanya tidak bertahan lama serta masih mudah berubah.
Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi
Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (menyenangkan) atau negatif (tidak menyenangkan) terhadap obyek dimaksud. Di samping itu, sikap juga mengandung motivasi atau daya dorong bagi individu untuk berperilaku tertentu terhadap obyek yang dihadapinya.

Dalam hubungan antar kelompok (intergroup relations), ada berbagai sikap yang kerap muncul terhadap anggota ataupun kelompok lain, di antaranya:
a) Prasangka (prejudice)
Prasangka merupakan evaluasi kelompok atau seseorang yang mendasarkan diri pada keanggotaan dimana seseorang tersebut menjadi anggotanya. Prasangka adalah evaluasi negatif terhadap kelompok luar (out-group).
Prasangka mengacu pada sikap bermusuhan yang ditujukan terhadap suatu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai ciri yang tidak menyenangkan. Sikap ini dinamakan prasangka, sebab dugaan yang dianut orang yang berprasangka tidak didasarkan pada pengetahuan, pengalaman, atau pun bukti memadai.
b) Stereotip (stereotype)
Stereotip (stereotype) erat kaitannya dengan prasangka. Orang yang menganut stereotip tertentu mengenai kelompok lain cenderung berprasangka terhadap kelompok tersebut. Stereotip merupakan citra yang kaku mengenai suatu kelompok yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut. Stereotip juga dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan terhadap sifat-sifat yang tipikal dari kelompok lain. Stereotip mungkin ada benarnya, tapi tidak seluruhnya benar. Stereotip muncul karena orang bersifat terlalu menyederhanakan dan tidak peka terhadap fakta obyektif.

RANGKUMAN

1) Hubungan antar kelompok (intergroup relations) adalah hubungan antara dua kelompok atau lebih yang mempunyai ciri khusus.
2) Dalam hubungan antar kelompok (intergroup relations), ada berbagai sikap yang kerap muncul terhadap anggota ataupun kelompok lain, di antaranya adalah prasangka (prejudice) dan stereotip (stereotype).

Advertisement
Dimensi Sikap dalam Hubungan Antar Kelompok | Admin | 4.5