Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Badan Usaha

In Pendidikan

Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Badan Usaha – Badan usaha perlu dikelola secara professional sehingga dibutuhkan ilmu manajemen untuk mengelolanya. Apa sajakah fungsi manajemen yang lain dalam pengelolaan badan usaha? Materi berikut ini akan memberi penjelasan lebih mendalam

     Jika suatu badan usaha dikelola dengan baik dapat meningkatkan kinerja badan usaha dan akan meningkatkan nilai badan usaha bagi para pemegang saham. Pengelolaan suatu badan usaha pada umumnya dilakukan oleh para manajer. Manajer ialah orang yang memimpin karyawan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam mengelola badan usaha, para manajer melakukan fungsi manajemen. Klasifikasi dari fungsi-fungsi manajemen tersebut berbeda menurut beberapa ahli, di antaranya sebagai berikut :
1. George R. Terry, membagi fungsi manajemen menjadi:
• perencanaan (planning)
• pengorganisasian (organizing)
• pelaksanaan (actuating)
• pengendalian (controlling)

2. Henry Fayol, membagi fungsi manajemen menjadi:
• perencanaan (planning)
• pengorganisasian (organizing)
• pemberian komando (commanding)
• pengoordinasian (coordinating)
• pengendalian (controlling)

3. James Stoner, membagi fungsi manajemen menjadi:
• perencanaan (planning)
• pengorganisasian (organizing)
• memimpin (leading)
• pengendalian (controlling)

Berikut penjelasan fungsi manajemen menurut James Stoner.
1. Perencanaan (Planning)
Fungsi perencanaan merupakan fungsi terpenting dari fungsi manajemen sehingga harus dilakukan terlebih dahulu sebelum fungsi-fungsi manajemen lainnya. Mengapa perencanaan penting bagi setiap badan usaha? Hal ini dikarenakan perencanaan merupakan persiapan bagi badan usaha untuk menghadapi kondisi bisnis dimasa depan. Perencanaan meliputi pengambilan keputusan mengenai apa, siapa, bagaimana, dan kapan sebuah kegiatan akan dilakukan.

Beberapa jenis perencanaan:
a. Perencanaan strategis, merupakan rencana yang menggambarkan titik berat bisnis utama perusahaan untuk jangka panjang. Dalam rencana strategis, tercakup secara khas tujuan dan strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan.
b. Perencanaan taktis, merupakan rencana yang memiliki skala lebih kecil, misalnya untuk jangka waktu satu atau dua tahun. Rencana taktis mengacu pada rencana strategis yang telah dibuat. Rencanarencana taktis dibuat dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang ada, tingkat persaingan, dan perkembangan teknologi.
c. Perencanaan operasional, merupakan rencana mengenai cara-cara melaksanakan kegiatan tertentu supaya berjalan efektif dan efisien untuk mencapai rencana-rencana taktis.
d. Perencanaan darurat, merupakan perencanaan alternatif yang dikembangkan untuk menghadapi berbagai perubahan kondisi bisnis dan berbagai masalah yang mungkin terjadi.

Menurut Heidjrachman Ranupandojo, perencanaan harus mengandung tujuh prinsip, yaitu:
a. rencana harus memiliki tujuan yang khas;
b. ada kegiatan yang diprioritaskan;
c. melibatkan semua orang;
d. perencanaan hendaknya telah diperhitungkan;
e. rencana harus selalu diperbaiki;
f. penanggung jawab perencanaan;
g. semua rencana selalu bersifat tentatif dan interim.

2. Pengorganisasian (Organizing)
Fungsi pengorganisasian adalah kegiatan pengaturan para karyawan dan sumber-sumber lain dengan cara yang konsisten agar semua pekerjaan yang dilakukan terarah pada satu tujuan. Untuk itu, dalam pengorganisasian harus dibuat suatu struktur tugas dan wewenang demi mempermudah tercapainya hasil yang telah direncanakan. Dengan demikian, fungsi pengorganisasian menjembatani antara kegiatan perencanaan dan pelaksanaannya. Jika fungsi perencanaan menentukan apa (what) dan bagaimana (how), fungsi pengorganisasian me nentukan siapa (who), yaitu siapa yang akan mengerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Jadi, pengorganisasian adalah usaha untuk menentukan struktur tugas dan wewenang, menentukan pekerjaan yang harus dilakukan, menentukan garis kegiatan, membentuk sejumlah hubungan di dalam organisasi dan memilih, menempatkan serta melatih karyawan yang dilakukan secara berkesinambungan.

3. Kepemimpinan (Leadership)
Fungsi kepemimpinan merupakan suatu proses yang memengaruhi kebiasan-kebiasan karyawan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengomunikasikan tugas secara efektif kepada karyawan dan cara-cara penyelesaian tugas tersebut. Secara umum, gaya kepemimpinan dapat digolongkan menjadi:
a. Otokratis (Authoritarian)
Para manajer yang menerapkan gaya kepemimpinan otokratis, memiliki kekuasan penuh untuk mengambil keputusan. Kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab menjadi monopolinya. Perintah yang diberikan merupakan komando yang harus diikuti dan tidak boleh dibantah. Manajer seperti ini hampir tidak pernah memberikan kepercayaan kepada karyawannya.
b. Bebas (Laissez Faire)
Gaya kepemimpinan bebas (laissez faire) merupakan lawan ekstrim dari gaya kepemimpinan otokrasi. Manajer yang menerapkan gaya kepimpinan bebas, memberikan wewenang kepada para karyawannya. Dalam hal ini, hanya ada sedikit campur tangan dari para manajer. Jika manajer menerapkan gaya kepemimpinan bebas, karyawan harus mampu memotivasi diri sendiri dalam melaksanakan tugasnya.
c. Demokratis (Democratic)
Gaya kepemimpinan demokratis disebut juga dengan gaya kepemimpinan partisipatif. Gaya kepemimpinan ini merupakan gabungan antara gaya kepemimpinan otokrasi dan laisssez faire. Gaya kepemimpinan demokratis membagi kekuasaan, wewenang, dan tanggung jawab kepada para karyawannya. Dalam manajemen partisipatif, manajer mendorong karyawannya untuk menyatakan pendapatnya, tetapi tidak mengharuskan untuk membuat keputusan yang besar. Berdasarkan hasil penelitian, gaya kepemimpinan partisipatif atau demokratis mampu memperbaiki mutu dan jumlah pekerjaan.

4. Pengawasan (Controlling)
Fungsi pengawasan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para manajer dalam mengawasi dan mengevaluasi hasil yang telah dicapai dengan mengukur seberapa besar hasil yang telah dicapai dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan. Standar dapat pula diterapkan pada jumlah produksi, jumlah biaya, jumlah keuntungan, dan jumlah penjualan. Alasan menentukan standar adalah untuk mendeteksi dan mengetahui kekurangan sehingga manajer dapat segera melakukan tindakan koreksi.
Fungsi pengawasan harus dilakukan pada setiap tahap sehingga mudah untuk melakukan perbaikan jika terjadi penyimpangan-penyimpangan. Pengawasan dalam kinerja manajemen perusahaan sangat dibutuhkan agar semua hal yang dilakukan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Tags: #Fungsi Manajemen dalam Pengelolaan Badan Usaha

author
Author: 
    Valuta Asing dan Cara Pembayaran Internasional
    Valuta Asing dan Cara Pembayaran Internasional
    Valuta Asing dan Cara Pembayaran Internasional – Apa
    Hakikat, Manfaat, Kebijakan Perdagangan Internasional
    Hakikat, Manfaat, Kebijakan Perdagangan Internasional
    Hakikat, Manfaat, Kebijakan Perdagangan Internasional – Apa sajakah
    Definisi Negara Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor Leste
    Definisi Negara Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor Leste
    Definisi Negara Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor
    Definisi Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam
    Definisi Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam
    Definisi Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam
    Must read×

    Top