close

Jenis-Jenis Batuan

Advertisement

Jenis-Jenis Batuan – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai jenis-jenis batuan.

JENIS-JENIS BATUAN

Secara umum batuan dibagi dalam tiga jenis, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorfik. Bagaimanakah lebih lanjut mengenai jenis-jenis batuan tersebut? Mari simak bahasan berikut.

Jenis-jenis batuan secara garis besar dapat dibedakan sebagai berikut:

1) Batuan beku
Batuan beku terjadi apabila magma pijar membeku. Batuan beku sebagian besar mengandung banyak mineral yang disebut ‘mineral silikat’, yaitu mineral yang mengandung atom silikon atau silisium dan oksigen. Mineral-mineral silikat biasanya dapat bergabung dengan mineral-mineral metalik lain, seperti aluminium, besi, kalsium, sodium, potasium, dan magnesium.
Menurut tempat terjadinya, batuan beku dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

a) Batuan beku dalam
Ciri utama batuan beku dalam memiliki tekstur holokristalin (semua mengkristal) atau granitis. Seluruh bagian batuan terdiri dari kristal-kristal. Hal ini terjadi karena pembekuan magma (turunnya suhu) berjalan sangat lambat, sehingga terjadi pengkristalan yang sempurna. Ini ditunjukkan oleh ukuran kristalnya yang besar dan kasar.

Contoh batuan beku dalam adalah:

• Granit
Granit terdiri dari beragam mineral yang berbeda warnanya. Warna granit yang banyak didapati adalah merah, kelabu, putih, dan hijau.

• Diorit
Seperti halnya granit, diorit termasuk batuan asam yang kaya kuarsa. Batuan ini banyak mengandung plagioklas dan mineral gelap (homblende). Dibandingkan dengan batuan granit, diorit mengandung lebih sedikit silisium dan kalsium.

• Gabbro
Batuan gabbro termasuk batuan bass (mafik), artinya miskin akan kuarsa. Mineral pembentuknya terutama terdiri dari piroksin dan homblende, serta sedikit plagioklas. Pada batuan ini juga tarkandung mineral gelap, seperti olivin dan biotit.

• Peridotit
Batuan peridotit termasuk batuan ultramafik yang tersusun atas mineral-mineral gelap, yaitu olivin, piroksen, dan sebagian feldspar kalsium.

b) Batuan beku gang/celah/korok
Dinamakan batuan beku gang karena lokasi terjadinya pembekuan magma adalah di sela-sela lapisan batuan atau pada corong diatrema (saluran magma) yang sedang naik di lapisan kerak bumi. Magma yang bergerak menuju ke permukaan bumi, mengalami proses pendinginan lebih cepat. Akibatnya, ada sebagian kristal yang berukuran besar (disebut fenokrist) dan ada yang berukuran kecil disebut ground mass. Gabungan kristal besar dan kecil ini membentuk suatu tekstur yang diberi nama ‘porfirik’. Contoh batuan beku gang adalah porfirgranit dan porfirgabbro.

c) Batuan beku luar
Magma yang telah keluar di permukaan bumi disebut ‘lava’. Setelah sampai di permukaan bumi, proses pendinginan berjalan sangat cepat, sehingga tidak ada kesempatan bagi magma untuk mengalami proses kristalisasi. Kalau pun masih terdapat kristal, bentuknya sangat halus dan sukar sekali dibedakan. Batuan beku yang tidak berkristal disebut ‘amorf’ (tidak berbentuk) atau bertekstur gelas. Contoh batuan beku luar adalah riolit, andesit, basalt, dan komatit.

2) Batuan sedimen
Menurut asalnya, batuan sedimen berasal dari fragmen-fragmen batuan beku dan batuan metamorf. Sebagian kecil terbentuk dari sisa-sisa organisme. Hampir 4/5 permukaan bumi tertutup oleh batuan sedimen.
Pengaruh proses alam dari luar permukaan bumi, seperti air, angin, pemanasan, pendinginan, dan gelombang menyebabkan batuan beku menjadi lapuk dan terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (fragmen).
Air, angin, dan gletser dapat mengangkut fragmen-fragmen atau bahan-bahan lapuk lainnya, dan mengendapkannya di tempat lain yang lebih rendah. Maka, secara berturut-turut terjadi proses pelapukan, pengikisan, pengangkutan, dan pengendapan (sedimentasi), sehingga kemudian terbentuklah batuan sedimen.

Selama proses ini terjadilah seleksi, yaitu bahan-bahan yang lebih besar dan berat diendapkan di tempat yang lebih dekat dari tempat asalnya, sedangkan yang lebih kecil/halus dan ringan diendapkan di tempat-tempat yang lebih jauh. Setelah material-material tersebut mengendap, terjadilah sementasi (perekatan) dan kompaksi (pemadatan), sehingga terbentuk batuan sedimen.

Puing-puing besar umumnya tetap tinggal dan mengendap di tempat terjadinya pelapukan. Pembentukan sedimen di tempat asal atau di sekitar tempat terjadinya pelapukan disebut ‘eluvium’. Pembentukan sedimen yang terjadi di tempat yang jauh dari asal batuan induknya disebut ‘aluvium’.
Eluvium menghasilkan endapan atau sedimen eluvial, contohnya breksi. Adapun aluvium menghasilkan endapan aluvial, contohnya konglomerat, batu pasir, dan batu lempung.

Berdasarkan tenaga yang mengangkut bahan asal, batuan sedimen dibedakan menjadi:
a) Batuan sedimen aquatis, yakni batuan sedimen yang diendapkan oleh air.
b) Batuan sedimen aeris atau aeolis, yakni batuan sedimen yang diendapkan oleh angin.
c) Batuan sedimen glasial, merupakan batuan sedimen yang diendapkan oleh es atau gletser.
Berdasarkan tempat di mana terjadi pengendapan, batuan sedimen digolongkan menjadi:
a. Batuan sedimen terestris, diendapkan di daratan.
b. Batuan sedimen marine, diendapkan di dasar laut.
c. Batuan sedimen fluvial, diendapkan di dasar sungai.
d. Batuan sedimen limnis, diendapkan di dasar danau.
e. Batuan sedimen glasial, diendapkan di daerah yang pernah mengalami erosi glasial.

3) Batuan metamorf
Batuan metamorf atau disebut juga batuan malihan adalah batuan yang berasal dari batuan beku atau batuan sedimen, namun telah mengalami perubahan secara fisik dan kimiawi akibat adanya panas dan tekanan yang tinggi.

RANGKUMAN

1) Secara garis besar, batuan dapat dibedakan atas batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.
2) Masing-masing jenis batuan terbentuk secara berbeda dan memiliki perbedaan karakteristik pula.

Advertisement
Jenis-Jenis Batuan | Admin | 4.5