close

Menyunting Puisi Lama

Menyunting Puisi Lama – Setelah memahami karakteristik dan mampu menulis puisi lama, siswa diharapkan mampu menyuntingnya agar menjadi sebuah karya yang sempurna.

Menyunting puisi lama adalah kegiatan yang berkaitan dengan memperbaiki puisi yang telah dibuat. Artinya, kegiatan menyunting berkaitan dengan cara menulis puisi itu sendiri. Ketika seseorang membuat puisi lama misalnya, ternyata puisi tersebut kurang tepat dan tidak sesuai dengan karakteristik atau ciri-ciri puisi lama maka penyuntingan perlu dilakukan.

Untuk melakukan penyuntingan ini, harus dikenali dulu proses menulis puisi lama. Dengan tahu proses menulis puisi lama, proses penyuntingan puisi lama akan lebih mudah dilakukan.

Menulis Puisi Lama

Menulis puisi ternyata bisa jadi hal yang sulit bagi seseorang. Padahal, menulis puisi adalah menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Tentu pengemasan penulisan puisi ini harus memerhatikan keindahan kata, namun tidak kehilangan makna.

Menulis puisi sebenarnya tinggal mencurahkan semua pikiran dalam bentuk kata-kata. Tidak perlu memikirkan jumlah bait dan irama. Cukup tulis saja perasaan Anda. Perasaan ketika jatuh cinta, ketika rindu pada seseorang, atau ketika kecewa.

Hal yang cukup sulit sebenarnya adalah menulis puisi lama. Menulis puisi lama tidak sebebas menulis puisi baru. Menulis puisi lama harus memerhatikan bait, irama, dan rima. Jika ingin membuat puisi lama, ketiga hal itu perlu diperhatikan karena merupakan pembangun dari struktur puisi lama.

Bait

Bait merupakan sebuah kesatuan dalam puisi. Di dalam bait terdapat beberapa baris yang menjadi kesatuan utuh. Bait biasanya digunakan untuk membedakan beberapa bab atau bagian dari sebuah puisi dalam satu kesatuan. Misalnya, di dalam syair tertentu, terdapat empat bait. Tiap bait memiliki bagian cerita atau temanya sendiri, tetapi masih tetap satu kesatuan.

Contoh:

Berpikirlah secara sehàt
Berucap tentang taubat dan solawàt
Berkarya dalam hidup dan manfaàt
Berprasangkà yang baik dan tepàt

Rajin-rajinlah beribadàt
Janganlah lupa mengerjakan solàt
Dan perbanyaklah engkau berzakàt
Untuk bekal nanti di akhiràt

Ingatlah selalu kepada tuhàn
Jernihkanlah hati dan kuatkanlah imàn
Supayà hidup menjadi tentràm
Dan dapat menjadi pedomàn

Syair tersebut terdiri atas tiga bait. Setiap bait terdiri atas empat baris. Tiap bait memiliki maknanya sendiri, tetapi masih dalam satu tema. Bait pertama syair tersebut mengandung amanat untuk menjaga pikiran dan ucapan. Bait kedua mengandung makna untuk tidak lupa ibadah. Dan bait ketiga memiliki makna supaya selalu ingat Tuhan agar hidup lebih tenteram.

Bait dalam puisi lama umumnya empat baris. Contohnya syair dan puisi. Akan tetapi, ada beberapa puisi lama yang terdiri atas dua baris.

Fokus pada bait ini menjadi penting karena ketika menulis puisi lama, jumlah baris dalam tiap bait akan menentukan jenis puisi tersebut. Ketika menulis puisi lama, misalnya ingin membuat pantun, tentu jumlah baris pada tiap baitnya harus empat. Ketika akan membuat talibun, jumlah barisnya harus genap dan jumlah baitnya harus lebih dari empat baris.

Rima

Rima menjadi salah satu unsur struktur puisi lama yang perlu diperhatikan. Rima merupakan pengulangan bunyi tiap baris. Pengulangan bunyi ini biasanya dicirikan pada akhir larik saja. Perbedaan pengulangan bunyi atau rima akan membuat jenis puisi lama menjadi berbeda bentuknya. Misalnya, karakteristik pantun yang memiliki larik a-b-a-b tentu akan berbeda dengan karakteristik syair dengan rima a-a-a-a.

Rima sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan akhir larik. Rima juga menyangkut tentang pengulangan bunyi berselang dalam larik puisi. Sebenarnya, ada banyak jenis rima. Beberapa jenis rima diantaranya adalah rima awal, rima akhir, rima tengah, rima bersilang, rima rangkai, dan rima berpeluk.

1. Rima Awal

Rima awal adalah pengulangan bunyi yang sama pada awal kalimat dalam baris.

Contoh:

Sabar, setia selalu (s-s-s)
Bagai banjir gulung gemulung (b-b- g-g)

Rima pada puisi tersebut dicirikan dengan pengulangan bunyi pada awal kata saja dalam satu baris.

2. Rima Akhir

Rima akhir adalah pengulangan bunyi pada akhir suku kata dalam baris.

Contoh:

Habis kikis (s-s)
Pilu hatiku kau palu (u-u-u-u)

Terlihat dari penggalan puisi tersebut, dalam satu baris, terdapat persamaan bunyi pada bagian akhir suku kata.

**3. Rima Tengah

Rima tengah adalah pengulangan kata pada tengah kalimat.

Contoh:

Pemuda kaulah harapan bangsa
Pemudi kaulah harapan negeri

Pengulangan katanya terletak pada bagian tengah dalam baris.

4. Rima Berpeluk

Rima berpeluk adalah rima yang terdapat bait genap, dengan persamaan bunyi pada baris pertama dengan keempat dan baris kedua dengan baris ketiga. Polanya adalah a-b-b-a.

Contoh:

Dalam kebun tanah airku (a)
Tumbuh sekuntum bunga teratai (b)
Tersembunyi kembang indah permai (b)
Tidak terlihat orang yang lalu (a)

5. Rima Rangkai

Rima rangkai adalah rima yang terdapat pada syair. Rima jenis ini memiliki persamaan bunyi tiap barisnya dalam satu bait. Polanya adalah a-a-a-a. Rima ini juga terdapat pada puisi lama, seloka.

Contoh:

Seberang-menyeberang rumah habis rata
Apinya cemerlang tiada membuka mata
Bunyi gempar terlalulah gempita
Lemah tulang sendi angota

6. Rima Bersilang

Rima bersilang merupakan rima pada bait berlarik genap, yang larik pertamanya berima dengan larik ketiga dan larik keduanya berima dengan larik keempat. Rima ini menjadi ciri khas pantun dan juga jenis puisi lama yang mirip pantun seperti karmina atau talibun. Perbedaanya hanya pada pola letaknya. Karmina terdiri atas dua baris dan memiliki pola rima bersilang. Sementara itu, talibun terdiri atas enam baris atau lebih (genap) dengan pola persilangan yang sesuai dengan jumlah baris.

Contoh:

Kalau puan, puan cemara (a)
Ambil gelas di dalam peti (b)
Kalau tuan bijak laksana (a)
Binatang apa tanduk di kaki (b)

Contoh pantun:

Banyak udang, banyak garam (a-b)
Banyak orang, banyak ragam (a-b)

Contoh talibun:

Kalau pandai berkain panjang, (a)
Lebih baik kain sarung, (b)
Jika pandai memakainya. (c)
Kalau pandai berinda semang, (a)
Lebih umpama ibu kandung, (b)
Jika pandai membawakan ya. (c)

Rima ini sebenarnya banyak jenisnya. Rima bisa diuraikan lagi jenisnya berdasarkan kategori lain, misalnya berdasarkan bunyinya. Namun, untuk mencoba menulis puisi lama, tentu yang perlu diperhatikan adalah rima yang berkaitan dengan kata tiap barisnya, dalam hal ini rima bersilang dan rima rangkai. Kedua jenis rima ini banyak terdapat pada jenis puisi lama. Sementara jenis rima lainnya biasanya ditemukan pada jenis puisi baru.

Irama

Irama sebenarnya berkaitan dengan cara baca puisi itu sendiri. Akan tetapi, tentu ketika menulis puisi lama, irama menjadi penting karena menentukan paduan bunyi, unsur musikalitas, tinggi rendahnya, panjang pendeknya, atau kereas lembut ucapan bunyi. Irama ini akan timbul berdasarkan rima atau pengulangan bunyi. Karena itu, rima dan irama ini sangat berkaitan satu sama lain.

Memilih Diksi

Selain masalah bait, rima, dan irama, dalam menulis atau menyunting puisi lama juga harus diperhatikan masalah diksi. Untuk diketahui, diksi merupakan pemilihan kata yang digunakan ketika penulis mengekspresikan pikirannya. Istilah diksi ini juga mengacu pada pembicara ketika dia memilih kata tertentu agar pikiran yang ingin disampaikannya bisa sampai dengan jelas.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), diksi artinya pilihan kata yang tepat atau selaras. Sebuah kata yang dipilih dalam membuat puisi lama tentu mengandung makna tersendiri. Namun, mengingat puisi bukan hanya soal makna, hendaknya pemilihan diksi juga harus memerhatikan kesesuaian dengan rangkaian bunyi dan nilai estetisnya. Jadi, menulis puisi lama juga harus bisa menentukan kata yang tepat agar bisa menjadi satu kesatuan dan tidak kehilangan makna.

Contoh:

Dia berangkat dan tak perlu dinanti (kurang tepat)

Dia pergi dan tak perlu dinanti (tepat)

Jika memerhatikan irama dan rima, tentu penggunaan diksi pergi lebih cocok. Maknanya tidak hilang, tetapi irama dan rimanya menjadi kuat. Karena itu, tidak jarang seorang penulis puisi setelah menulis biasanya memperbaiki atau menyunting kembali puisinya agar lebih baik dalam hal diksi. Tentu untuk puisi lama bukan soal diksi saja, melainkan harus memenuhi kepatuhan bait, rima, dan irama agar identitas puisi lama menjadi jelas.

Persoalan diksi dalam puisi lama juga sebenarnya bisa mencirikan warna puisi itu sendiri. Beberapa puisi lama misalnya, ada yang mengandung kosakata bahasa daerah atau bahasa Arab (untuk syair). Penggunaan kosakata dari bahasa asing ini diperbolehkan selama tepat, singkat dan padat, tidak berkonotasi buruk, dan tentu enak didengar atau jadi kesatuan.

Poin Penting

  1. Menyunting puisi merupakan aktivitas untuk mengamati sebuah puisi dan memperbaikinya dengan memerhatikan bait, irama, rima, dan juga diksi.
  2. Perbedaan bait dalam puisi akan menentukan bentuk puisi lama tersebut. Begitu juga dengan rima dalam sebuah puisi lama akan menicrikan jenis puisi lama tersebut.
  3. Diksi menjadi pusat penting dalam melakukan penyuntingan puisi. Diksi akan sangat menentukan keselarasan bait dan juga rima dan irama dalam sebuah puisi lama.
Menyunting Puisi Lama | Admin | 4.5