close

Organisasi Pergerakan Bersifat Nasional

Organisasi Pergerakan Bersifat Nasional – Didorong oleh kesadaran tentang banyaknya hambatan yang dihadapi jika pergerakan hanya bersifat etnis dan keagamaan, banyak pihak mulai tergerak membentuk organisasi nasional. Bagaimanakah keberadaan organisasi pergerakan bersifat nasional? Mari simak bahasan berikut.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan mampu memahami mengenai keberadaan organisasi pergerakan bersifat nasional.

Penyebutan sebagai organisasi pergerakan yang bersifat nasional tak lain karena lebih berani dan terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan seluruh bangsa Indonesia. Nama Indonesia juga dipakai sebagai pengganti nama Hindia. Keanggotaan organisasi-organisasi ini tidak lagi dibatasi oleh sekat perbedaan daerah dan agama, tetapi bersifat nasional. Perjuangannya juga tidak saja dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi tegas memperjuangkan kepentingan politik dan melawan pemerintah Belanda. Berikut beberapa organisasi pergerakan yang bersifat nasional.

1. INDISCHE PARTIJ (IP)

Indische Partij (IP) didirikan pada tanggal 25 Desember 1912, atas prakarsa E.F.E Douwes Dekker yang kemudian mendapat dukungan dari R.M Soewardi Soerjaningrat dan dr. Tjipto Mangoenkoesomo. Ketiga orang tersebut, kemudian dikenal dengan sebutan ‘Tiga Serangkai’. Sebagai organisasi politik pertama, IP mempunyai kegiatan yang sifatnya revolusioner, demi membangun jiwa patriotisme pada segenap rakyat Indonesia.

Cara-cara yang digunakan IP untuk mewujudkan tujuannya adalah:

• Menumbuhkembangkan rasa nasionalisme.
• Menghapuskan adanya diskriminasi ras, suku, dan fanatisme agama yang berlebihan.
• Berusaha mendapatkan hak bagi semua orang Hindia (Indonesia).
• Memperbaiki kehidupan ekonomi rakyat yang masih lemah.
• Memperbesar pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan.

Untuk lebih memantapkan sepak terjangnya, pada tanggal 4 Maret 1913, Indische Partij mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Belanda untuk mendapatkan pengakuan sebagai badan hukum. Permohonan tersebut ditolak dengan alasan IP bergerak di bidang politik dan mengancam keamanan umum. Pemerintah kolonial bahkan lantas membubarkan IP dan menyatakannya terlarang.

2. PERHIMPUNAN INDONESIA

Di negeri Belanda, pelajar-pelajar Hindia (sebutan resmi pemerintah kolonial untuk Indonesia) juga mendirikan organisasi pergerakan yang secara bertahap berkembang ke arah lebih radikal. Pada tahun 1908, sejumlah mahasiswa Hindia seperti Soetan Kasajangan Soripada dan R.M Noto Soeroto mendirikan perkumpulan yang mereka beri nama Indische Vereeniging.

Tujuan Indische Vereeniging adalah untuk memajukan kepentingan-kepentingan bersama dari kalangan pelajar/mahasiswa Hindia yang sedang menuntut ilmu di Belanda. Namun, setelah perang Dunia I berakhir dan kedatangan mantan pimpinan Indische Partij (E.F.E Douwes Dekker, R.M Soewardi Soerjaningrat, dan dr. Tjipto Mangoenkoesomo), kesadaran nasional para anggota tentang hak bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri semakin menguat.

Indische Vereeniging menerbitkan majalah ‘Hindia Poetra’ dengan Moh. Hatta sebagai pengasuhnya. Majalah ini terbit dwi bulanan, dengan 16 halaman dan biaya langganan seharga 2,5 gulden setahun. Penerbitan ‘Hindia Poetra’ dijadikan sarana untuk menyebarkan ide-ide anti kolonial. Dalam dua edisi pertama, Moh. Hatta menyumbangkan tulisan kritik mengenai praktik sewa tanah industri gula Hindia Belanda yang merugikan petani.

Saat Iwa Koesoemasoemantri menjadi ketua pada 1923, Indische Vereeniging mulai menyebarkan ide non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan tanpa bekerja sama dengan Belanda. Tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak mengetuaiIndische Vereeniging, nama majalah ‘Hindia Poetra’ berubah menjadi ‘Indonesia Merdeka’. Selanjutnya, di tahun 1925, saat diketuai Soekiman Wirjosandjojo, nama organisasi resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia.

RANGKUMAN

1) Indische Partij (IP) didirikan pada tanggal 25 Desember 1912, atas prakarsa E.F.E Douwes Dekker yang kemudian mendapat dukungan dari R.M Soewardi Soerjaningrat dan dr. Tjipto Mangoenkoesomo.

2) Di negeri Belanda, pelajar-pelajar Hindia (sebutan resmi pemerintah kolonial untuk Indonesia) juga mendirikan organisasi pergerakan yang secara bertahap berkembang lebih radikal.

Organisasi Pergerakan Bersifat Nasional | Admin | 4.5