Perlawanan Rakyat Bali dan Banjar

In Pendidikan

Perlawanan Rakyat Bali dan Banjar – Setelah mempelajari bahasan ini, kalian akan mengetahui tentang berlangsungnya perlawanan rakyat Bali dan Banjar terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

PERLAWANAN RAKYAT BALI DAN BANJAR

Bagaimanakah kebijakan pemerintahan kolonial Belanda di Bali dan Banjar? Bagaimanakah kebijakan itu disikapi oleh masyarakat dan Kerajaan setempat? Berikut penjelasannya.

I. PERLAWANAN RAKYAT BALI
Di masa pemerintahan kolonial Belanda, Bali adalah daerah yang masih belum tergali potensinya. Letaknya yang cukup jauh dari Pulau Jawa menjadikan misi dagang masih terbilang minim di sana. Selain itu, banyaknya kerajaan-kerajaan kecil di garis pantai Bali menjadikan upaya pelayaran lebih rumit.
Tercatat kontak dagang di daerah ini baru dimulai pada abad ke-19 dengan dikirimnya dua utusan Belanda, yakni Granpe Moliere dan Huskus Koopman untuk mendiskusikan kontrak politik di bidang ekonomi dan politik dengan raja-raja Bali. Kontrak dimaksud sangatlah penting mengingat di Bali berlaku hukum ‘Tawan Karang’ yang menyebutkan bahwa setiap kapal yang berlayar masuk ke perairan Bali dan terdampar, maka seluruh isinya menjadi milik Kerajaan terdekat dari lokasi karamnya kapal.
Atas bujukan kedua utusan Belanda, raja-raja sepakat untuk bekerja sama dengan Belanda dan menangguhkan pemberlakuan hukum ‘Tawan Karang’ bagi kapal-kapal Belanda. Perjanjian ini kemudian menjadi pertanyaan, karena pada 1844 ketika kapal Belanda karam di perairan Buleleng dan Karang Asem, pihak kerajaan tetap merampas isi kedua kapal tersebut.
Perlakuan ini diprotes keras oleh pihak Belanda yang menuntut Kerajaan Buleleng membayar ganti rugi kepada pihak Belanda. Permintaan Belanda ditolak oleh Raja Gusti Ngurah Made Karangasem dan Patih I Gusti Ketut Jelantik. Penolakan juga mendapat dukungan dari Kerajaan Karangasem dan Klungkung. Respons Belanda adalah dengan mengirimkan pasukan untuk melakukan serangan militer dan menduduki benteng pertahanan Buleleng. Pada 6 Juli 1846, perlawanan berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda. Mereka mendesak Raja Buleleng untuk menandatangani perjanjian yang berisi:
1) Dalam waktu tiga bulan, Raja Buleleng harus menghancurkan semua benteng Buleleng yang pernah digunakan dan tidak akan membangun benteng baru,
2) Raja Buleleng harus membayar ganti rugi biaya perang yang dikeluarkan Belanda dan menyerahkan I Gusti Ketut Jelantik kepada pemerintah Belanda, dan
3) Belanda diizinkan menempatkan pasukannya di Buleleng.
Perjanjian ini tidak benar-benar dipatuhi oleh Raja Buleleng, bahkan ia mempersiapkan rakyatnya untuk berjuang mengusir pemerintahan kolonial Belanda. Akibatnya, pada tanggal 8 Juni 1848, kembali berlangsung ‘Perang Puputan’ antara Belanda dengan pasukan Buleleng.
Setelah berhasil memukul mundur Belanda dari Benteng Jagaraga, pasukan Belanda akhirnya berhasil menguasai Benteng Jagaraga ini dalam sebuah serangan pada tanggal 15 April 1849. Dalam serangan ini, Raja Buleleng dan I Gusti Ketut Jelantik tewas dalam upaya mempertahankan diri. Selanjutnya berturut-turut Belanda melakukan penaklukan di daerah Klungkung, Badung, dan seluruh Bali pada 1849-1906.

II. PERLAWANAN RAKYAT BANJAR
Perang Banjar terjadi di daerah Kalimantaran Selatan, dengan Kerajaan Banjar sebagai pusat pertempuran. Saat itu, wilayah Kerajaan Banjar meliputi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Banyaknya hasil bumi daerah ini, seperti emas, intan, lada, rotan, dan damar yang menjadi primadona komoditas dagangan masyarakat Eropa, akhirnya memunculkan niat Belanda untuk menguasai Banjarmasin.
Dalam sebuah kesepakatan, Belanda berhasil memaksa Sultan Banjar untuk menyerahkan beberapa wilayah strategisnya kepada Belanda. Berkurangnya wilayah Kerajaan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Penghasilan yang didapat semakin kecil, sementara pemerintahan Belanda dengan semena-mena menaikkan pajak di Banjar. Keadaan ini semakin diperparah dengan meninggalnya Sultan Adam, Raja dari Kerajaan Banjar. Posisi lowong kekuasaan dimanfaatkan Belanda untuk memecah belah internal Kerajaan Banjar dengan mengangkat sepihak salah satu anak dari Sultan Adam sebagai Raja. Hal mana sebenarnya menyalahi wasiat dari Sultan Adam.
Situasi kacau kemudian ditengahi oleh Panembahan Muning yang menggagas agar Kerajaan Banjar diserahkan pada Pangeran Antasari yang masih terbilang keturunan Raja Banjarmasin. Selanjutnya, pasukan Panembahan Muning dan Pangeran Antasari melakukan penyerangan ke basis pasukan Belanda. Penyerangan ini mendapatkan dukungan dari banyak ulama dan punggawa kerajaan kecil lainnya di Banjarmasin. Dalam perjuangan perlawanan Belanda yang dilakukannya, Pangeran Antasari akhirnya diangkat menjadi Sultan Kerajaan Banjarmasin. Namun, dalam sebuah penyerangan pada 1862, beliau meninggal dunia. Perlawanan rakyat Banjar melawan Belanda sendiri baru berakhir 4 tahun setelahnya.

RANGKUMAN

1) Pemerintahan kolonial Belanda meluaskan koloninya ke wilayah Bali dan Banjar.
2) Monopoli dagang dan perampasan tanah di kedua wilayah ini menggerakkan perlawanan dari masyarakat dan Kerajaan setempat .

Tags: #Perlawanan Rakyat Bali dan Banjar

author
Author: 
    Valuta Asing dan Cara Pembayaran Internasional
    Valuta Asing dan Cara Pembayaran Internasional
    Valuta Asing dan Cara Pembayaran Internasional – Apa
    Hakikat, Manfaat, Kebijakan Perdagangan Internasional
    Hakikat, Manfaat, Kebijakan Perdagangan Internasional
    Hakikat, Manfaat, Kebijakan Perdagangan Internasional – Apa sajakah
    Definisi Negara Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor Leste
    Definisi Negara Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor Leste
    Definisi Negara Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor
    Definisi Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam
    Definisi Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam
    Definisi Negara Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam
    Must read×

    Top